Senin, 28 Maret 2011

Filsafat Pendidikan Kristen

FILSAFAT PENDIDIKAN[1]

I.                   Pendahuluan
Sebagaimana diketahui bahwa pendididkan tidak lepas dari  kehidupan manusia. Tanpa di sadari manusia sudah merasakan pendidikan sejak berada dalam kandungan hingga beranjak dewasa. Pendidikan berperan aktif dalam segi kehidupan manusia dari yang paling sederhana samapai ke taraf yang paling kompleks, meskipun banyak yang beranggapan bahwa pendidikan hanya
dilakukan pada suatu institusi formal, namun perlu disadari bahwa seluruh proses kehidupan manusia adalah pengajaran dan pendidikan.
Pendidikan paling awal berasal dari keluarga. Orang tua mengajarkan nilai-nilai yang kemudian hari akan selalu dipegang oleh anaknya. Orang tua menyiapakan anak untuk siap masuk dalam dunia kemasyarakatan, dimana anak akan belajar lebih banyak lagi tentang kehidupan. Bukan saja anak yang yang wajib mendapat pendidikan dan harus belajar, orang dewasapun bahkan sampai usia lanjut harus senantiasa mau belajar dan dididik untuk menerima keadaannya. Kelanjutan proses pendidikan sebenarnya tergantung dari kemauan individu dan lingkungan yang menunjangnya.  Maka tepat dikatakan  apabila pendidikan adalah proses seumur hidup.
Kembali dalam ranah pendidikan, maka selayaknya perlu dipahami apa konsep dasar pendidikan yang efektif itu. Pemahaman terhadap konsep pendidikan akan membawa pengertiian yang dalam akan kaidah pendidikan dan bagaimana pendidikan itu harus berjalan dengan baik. Proses pendidikan tidak lepas dari bahan pengajaran, materi atau kurikulum, tujuan dan goal yang ingin dicapai, pesrta didik, manajemen, guru dan ketenagakerjaan, fasilitas, administrasi,dst. Namun sering juga dijumpai banyak sekolah umum maupun kejuruan yang tidak dapat meresponi tujuan pendidikan yang optimal bagi anak-anak di era maju ini. Yang lebih menjadi perhatian adalah lembaga pendidikan Kristen yang tidak dapat merespon kebutuhan masyarakat akan pendidikan. Pendidikan yang mengintegrasikan pencapaian manusia namun sejalan dengan kebenaran-kebenaran Allah adalah hal yang harus diusahakan oleh setiap instansi pendidikan kristen. Maka sering disaksikan bahwa lembaga pendidikan kristen yang seharusnya menjadi “terang dan garam” bagi lembaga pendidikan lainnya tapi justru terpuruk, bersifat ekslusifisme, hilang arah, melenceng dari tujuan awal pendidikan kristiani, terutama akan visi dan panggilan Allah.
Oleh sebab itu makalah ini dibuat sebagai wacana konsep pendidikan Kristen yang tertata sesuai falsafah Alkitabiah. Diharapkan setelah membuat makalah ini maka siswa mampu memahami apa filsafat pendidikan itu, apa korelasinya dengan pendidikan kekristenan, apa goal yang ingin dicapai dalam pendidikan kristen, apa ciri khas dan landasan awal dari pendidikan Kristen, dst. Kesadaran akan pendidikan sejalan dengan visi Allah akan mereform pandangan-pandangan keliru soal pendidikan di akhir jaman ini yang semakin melenceng jauh dari kebenaran-kebenaran firman Allah.
Penulis ucapkan trimakasih kepada Bp. Pdt, A. Areng Mutak, Ed.D. selaku dosen pengajar mata kuliah filsafat pendidikan serta rekan-rekan seangkatan yang telah menyumbangkan ide dalam penulisan makalah ini. Penulis sadar tulisan ini tidaklah secara konkret mencakup seluruh masalah kependidikan kristiani, namun harapan penulis adalah supaya makalah akhir ini dapat menjadi jendela wawasan terhadap kemajuan pendidikan kristiani.

II.                Pendidikan
A.    Devinisi  Pendidikan
Devinisi pendidikan tidak lepas dari filsafat pendidikan. Para ahli pendidikan memberi rumusan sebagai berikut:
Menurut H. Horne “Pendidikan adalah proses yang terus menerus sebagai pribadi fisik maupun mental akan pengenalan pada penyesuaian yang lebih tinggi akan ketuhanan yang dimanifestasikan dalam intelektualitasan dan kemanusiaan (sosio-kultural)”[2]
Fredrick J. McDonald mendevinisikan “pendidikan sebagai kegiatan atau proses yang diarahkan untuk merubah tabiat (behavior) manusia”[3]. Jadi artinya manusia memiliki karakter yang cendrung berbuat sikap yang tidak baik, oleh sebab itu menurut McDonald itulah arti penting keberadaan pendidikan bagi manusia.
Lain halnya dengan Dr. M. J. Langeveld yang menyatakan “pendidikan sebagai pekerjaan membimbing anak didik menuju kedewasaan dalam kemandirian”. Tampaknya Langeveld terinspirasi teori Horace Bushnell (1802-18760) yang menganggap pendidikan adalah proses regenerasi tugas dan tanggungjawab dari orang dewasa ke anak-anak yang dilakukan berkesinambungan[4].
 Sedangkan tujuan pendidikan secara global bertujuan mempersiapkan anak dalam masyarakat, seperti yang tercantum  dalam UU No. 2 tahun 1989 “Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan dalam perannya dimasa yang akan datang dalam kemasyarakatan”.[5]
Dari sekian banyak pendapat para ahli tentang pendidikan, maka dapat kita simpulkan. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana seumur hidup untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengenalan akan Tuhan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan serta yang diperlukan dirinya dalam kemandirian dan bermasyarakat.
Terlebih lagi fungsi pendidikan serta keberadaannya di masyarakat, pendidikan memberi andil sangat besar terhadap kehidupan suatu masyarakat, atau bahkan bukan saja bagi tiap individu yng berkecimpung langsung dalam proses pendidikan, namun bagi arah kemajuan suatu negara.
Theodore Brameld berpendapat “Pendidikan adalah kekuatan bagi rakyat untuk menentukan suatu dunia macam apa yang kita inginkan dan bagaimana cara mencapainya”[6]. Brameld dengan jelas mengatakan bahwa sesungguhnya pendidikan adalah sistem dan pandangan masyarakat yang menjadi kekuatan bagi masyarakat itu sendiri untuk menentukan mau kemana negara tersebut, apa yang ingin dicapai, dan dengan cara apa. Pendapat Brameld ini dikarenakan perhatiannya terhadap kemajuan negara berkolerasi erat dengan aspek pengelolaan pendidikan oleh masyarakat itu sendiri, ini berarti pendidikan tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat, pendidikan di disain oleh manusia dan kembali diaplikasikan bagi kemakmuran manusia.

B.     Dasar Theologis Pendidikan
“Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin dalam hidup juga di dalam dirimu”. (2 Tim: 1:5)

Timotius adalah murid Paulus yang dicintai dalam perjalanan pelayanannya. Paulus memperhatikan kesungguhan dan iman Timotius yang tumbuh dari pelayanannya selama ini dengan Paulus. Latar belakang Timotius adalah dari keluarga beriman. Iman yang dimiliki Timotius berasal dari didikan dan pengajaran yang dilakukan oleh kedua orang tuanya dan neneknya Louis. Pendidikan yang pertama dan paling prematur adalah dari dalam keluarga (Ams 1:8). Pendidikan ini pula yang mejadi pondasi utama akan keberadaan anak. Sedari muda anak harus dikenalkan Firman Tuhan agar hidupnya sejalan dengan kehendak Allah. Musa selama tiga tahun diasuh ibunya, lalu disapih dan dikembalikan ke putri Firaun. Tetapi ke tiga tahun pertama itu menjadi bibit utama pelayanan terbesarnya.
Timotius adalah seorang yang Allah pakai untuk menjadi pemimpin gerejaNya sebagai generasi penerus Paulus. Ia masih muda menurut standar sosial Yahudi pada waktu itu (diperkirakan usianya sekitar 25-35 tahun). Ia memiliki sifat pemalu dan kurang percaya diri (1 Kor 16:10; 1 Tim 4:12). Dan ia sakit-sakitan, khususnya gangguan perut (1 Tim 5:23). Pendek kata, ia bukan tipe pemimpin menurut standar dunia; ia bukan berkarisma yang menjadi idola banyak orang, apalagi dijadikan panutan, seorang guru dan teladan bagi orang yang ia pimpin.
Namun Allah memakai Timotius dibalik berbagai kelemahan tersebut. Bahkan Allah telah mempersiapkan Timotius dari sejak ia masih sangat muda. Neneknya, Lois, dan ibunya, Eunike, memberi pengaruh yang besar dalam imannya kepada Allah dan didikan akan kitab suci. Fondasi iman telah tertanam dalam diri Timotius semenjak kecil seperti halnya Musa dan anak-anak Yahudi pada umumnya. Dan setelah fondasi itu diletakkan, ia lalu menjalani proses pengembangan kepribadian. Education process yang Timotius jalani adalah perpaduan yang indah antara faktor pendidikan manusiawi dan ilahi.
Makna penting akan taat dan dengar-dengaran akan firman Tuhan sering didengungkan, bahkan Daud sering mengutarakan bahwa firman Tuhan adalah pengajaran yang memberi ketentraman. Berkali-kali pula Allah selalu ingatkan bangsa Israel agar selalu ingat akan perbuatan Allah yang besar pada masa lampau, belajar dari sejarah. Berkali-kali juga Allah mengajarkan setiap generasi tua mengajarkan ketetapan-ketetapan hukum Taurat kepada generasi muda agar hidup mereka sejalan dengan firman Allah.
“haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun”. (Ulangan 6:7)
Ketetapan ini pun mendapat ancaman yang tidak main-main dari Allah, karena ketidaktaatan akan firman Allah berarti pembangkangan, dan sama dengan dosa bertenung; maka manusia akan menerima buah dari perbuatannya itu.
“pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN...” (I Sam 15:23)

“Sebab itu seperti lidah api memakan jerami, dan seperti rumput kering habis lenyap dalam nyala api, demikian akar-akar mereka akan menjadi busuk, dan kuntumnya akan beterbangan seperti abu, oleh karena mereka telah menolak pengajaran TUHAN semesta alam dan menista firman Yang Mahakudus, Allah Israel”. (Yesaya 5:24)


 Tujuan akhir pendidikan kristiani pada dasarnya untuk mempersiapkan suatu jemaat yang siap menyongsong kedatangan Tuhan, hidup abadi dan kekal dalam kerajaan Allah, hal itu pun sejalan dengan visi gereja sebagai mempelai Kristus akhir jaman. Tentu semua manusia ingin masuk surga, oleh sebab itu Firman Tuhan dengan tegas manusia yang ingin selamat harus belajar mengenal Tuhan secara sungguh-sungguh dalam hidupnya. Setidaknya pada beberapa alasan mengapa pendidikan penting bagi manusia.

1.      Manusia binasa karena tidak mau mengenal Tuhan
Manusia memiliki tabiat melakukan dosa, sehingga hidupnya diperbudak nafsu dan dosa. Hal ini menyeabkan manusia selalu lari dari kebenaran Allah (Kej 3:10). Keterikatan akan dosa itulah yang membuat manusia memutuskan untuk menjauhi pengajaran melalui firman Tuhan. Pilihan keliru ini akhirnya membawa manusia kepada kejatuhan kekal pada dosa. Karena manusia sudah tidak perlu Allah, maka Allah menolak juga mereka dari hak sulung anak-anak Allah.
“Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu”.(Hosea 4:6)

 Pengenalan akan firman Tuhan membawa manusia mengalami Allah. Pengenalan akan Allah melalui pengajaran firman Tuhan maupun pendidikan keseharian membuat manusia mampu menyelami perbuatan Allah, memahami eksistensi Allah dalam hidupnya, semakin bijak menyikapi kehidupan, hidupnya menjadi berkat bagi sesama. Pengenalan kepada Allah dan kebenaran Firman membuat manusia semakin intim bergaul erat dengan keberadaan Allah yang mulia sehingga dalam kehidupannya, berjalan seiring dengan waktu manusia akan dewasa dalam Roh, hidupnya diperbaharui senantiasa oleh Tuhan yang kudus.
 “...dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem." (Yesaya 2:3)
1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. (Mzm 1:1-3)

2.      Manusia perlu diajar untuk tahu membedakan mana yang baik dan buruk
Keberadaan manusia sering disilogismekan dengan kota Niniveh, kota Babel yang besar itu dalam jaman Yunus. Bangsa yang besar ini juga besar dosanya, sebagaimana ditulis Firman Tuhan, Babel mungkin bangsa yang kaya dan maju namun oleh karenanya itu mereka tidak bisa membedakan mana tangan kanan dan kiri.
Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?" (Yun 4:11)

Tangan kanan dan kiri melambangkan kekacauan besar atas moral manusia, sehingga itu mempengaruhi pandangan, maupun pemikiran manusia, secara teknis mereka sama diartikan sebagai manusia tak berpendidikan, tak bermoral dan rusak. Keberadaan Allah ditengah manusia dapat memperbaiki segala kekacauan itu (Kej 1:1-4). Ketika Yunus melakukan tugasnya, bangsa Niniveh bertobat dan Tuhan mengampuni mereka. Jadi pendidikan dapat memperbaiki kesalahan seseorang agar kembali dari perbuatan salahnya.
Terimalah didikanku, lebih dari pada perak, dan pengetahuan lebih dari pada emas pilihan. (Amsal 8:10)

Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu. (Amsal 12:1)

3.      Target utama pendidikan adalah menjadi serupa dengan Kristus
Kristus adalah role-model (panutan) yang Allah jadikan contoh, supaya setiap orang yang percaya dan hidup di dalam Dia maka serupa dengan Dia (Rom 8:29).
Fungsi pendidikan yang utama adalah serupa dan segambar dengan Kristus, sikap, tabiat, pola pikir, karakter dan Roh yang serupa dengan Kristus (Rom 12:2, II Kor 3: 18, Phil 3:10). Keserupaan dengan Kristus membawa sukacita bagi bukan saja kepada Allah namun berdampak bagi orang lain dan lingkungan, menjadi berkat bagi banyak orang.
  
III.             Pendidikan Kristen
A.    Pengertian Pendidikan Kristen
“Usaha bersama dan sistematis, ditopang oleh upaya rohani dan manusiawi untuk mentransmisikan pengetahuan, nilai-nilai, sikap-sikap, keterampilan-keterampilan dan tingkah laku yang bersesuaian/ konsisten dengan iman Kristen; mengupayakan perubahan, pembaharuan dan reformasi pribadi-pribadi, kelompok bahkan struktur oleh kuasa roh kudus, sehingga peserta didik hidup sesuai dengan kehendak Allah sebagaimana dinyatakan oleh Alkitab, terutama dalam Yesus Kristus “ (Foundational Issues in Christian Education, hal 81) ( Robert W. Pazmino, Strategi Pendidikan Kristen, B. Samuel Sidjabat, 1988, Yogyakarta : CV. Andi Offset, hal 10)
1.      Pendidikan Kristen adalah usaha menemukan dan mengembangkan potensi peserta didik secara optimal bagi kemuliaan Allah.
2.      Penyelenggaraan pendidikan Kristen harus sesuai dengan prinsip-prinsip iman Kristiani.
3.      Pendidikan Kristen bersifat long life learning.
4.      Tujuan akhir Pendidikan Kristen adalah komitmen total kepada Yesus sebagai Tuhan dan raja.

B.     Pentingnya Pendidikan Kristen
Johann Heinrich Pestalozzi menulis arti pendidikan sebagai:
untuk menghasilkan seorang yang bijaksana dan bajik dalam kehidupannya, manusiawi dalam semua hubungan dengan sesamanya manusia dan seorang yang hidup beriman sebagai mahluk yang bergantung pada Allah, sedangkan pendidikan kejuruan memperlengkapi pelajar untuk memperoleh keterampilan yang diperlukan untuk memenuhi perannya dalam masyarakat[7].

Arthur F. Holmes dalam bukunya The Idea of Christian College (1975, hal. 105-116), untuk zaman sekarang, sekolah Kristen terpanggil untuk memperlengkapi anak didik dalam segi-segi berikut ini.
1.      Kemampuan untuk mengembangkan potensi yang ada pada dirinya dalam bentuk talenta, karunia dan profesi.
2.      Pemahaman akan panggilan hidup sebagai warga negara yang bertanggung jawab.
3.      Dorongan-dorongan guna memungkinkan anak didik menjadi warga gereja yang memiliki pengetahuan akan identitas dan peranan gereja di dunia ini.
4.      Wawasan-wawasan yang berguna dalam mendorong anak didik menghadapi tantangan zaman, yang cenderung diwarnai oleh penyimpangan-penyimpangan (alinasi) dan keabnormalan.
5.      Bimbingan bagi anak didik sehingga dapat memiliki pandangan hidup holistik, integratif dalam terang iman Kristen

Konsep ini sangat relevan dengan cita-cita pendidikan nasional di Tanah Air kita. Sekolah Kristen memang harus memiliki visi dan bergerak atas visi itu untuk membawa anak didik ke dalam kehidupan yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Di samping itu, lewat keseluruhan proses belajar-mengajar, anak didik dibantu untuk memiliki rasa percaya diri, kreatif, inovatif, terampil, dan bertanggung jawab.

"Manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan." [8]

IV.             Pengetahuan
A.    Pengertian Pengetahuan
Pengtahuan menurut kamus besar online berarti pertemuan-pertemuan (kesimpulan) atas pencarian-pencarian (research; penelitian) yang berkala untuk dipahami sebagai sebuah kenyataan.
“Acquaintance with facts, truths, or principles, as from study or investigation, can be also acquaintance or familiarity gained by sight, something that is or may be known; the body of truths or facts accumulated in the course of time; the sum of what is known.”[9]

Jika dikatakan bahwa kebenaran diperoleh dari penelitian akan sesuatu, maka yang menjadi pertanyaan apakah itu kebenaran, apakah sumber kebenaran itu. Dalam iman kekristenan kebenaran hanya berpusat kepada satu pribadi yang absolut yaitu Tuhan yang diwujudkan dalam rupa Yesus Kristus (Yoh 1:4,17; 14:6).
Pengetahuan adalah hasil dan capaian dari suatu pengamatan akan kehidupan, yang terbentuk dari hubungan antar pribadi dengan realitas-realitas hidup dan  kebenaran akan pribadi Yesus Kristus yang absolut dan kekal disertai keyakinan bahwa kebenaran tersebut dapat mengubahkan tidak saja menyangkut segi intelektual tetapi juga segi moral, etis dan spritual serta sosio cultural didasari jiwa takut akan Tuhan[10].
Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian. (Amsal 2:6)

Sumber pengetahuan adalah Allah, sebagai pribadi tunggal yang menciptakan segala sesuatu, Allah adalah kunci dari segala misteri alam yang tidak mampu manusia ketahui. Dekat dengan Allah membawa manusia untuk menyelami pikiran-pikiran Allah, dekat dengan Allah membawa kita pada taraf lebih tinggi dari hanya sekedar menjalani kehidupan namun juga menghayati dan merenungkan segala perbuatan Allah di dunia, dekat dengan Allah memberi kita pemahaman akan siapa manusia, siapa Allah, apa itu kenyataan, apa itu kebenaran, apa itu hidup, sehingga manusia lebih berhikmat dan berakal budi menjalan kehidupan.

B.     Bagaimana Manusia Dapat Memperoleh Pengetahuan
Jean-Jacques Rosseau menanggapi perkembangan manusia berkolerasi santa erat dengan pencapaian penetahuan yang bersal dari lingkungan.
Pertumbuhan bagian tubuh yang tidak kelihatan dan pancaindra kita adalah pendidikandari alam, cara kita memanfaatkan pertumbuhan itu adalah pendidikan dari manusia, dan yang kita dapati dari pebgalaman dengan dunia sekitarnya adalah pendidikan dari benda-benda. (Sejarah Perkembangan, pikiran dan praktik pendidikan agama kristen, page 143)

Manusia dapat memperoleh pengetahuan berasal dari pertemuan-pertemuan antara kenyataan (bukti, fakta, hasil perenungan dan penelitian) dengan kepercayaan (apa yang manusia pegang sebagai kebenaran dan dipercayai sebagai suatu kenyataan) karena hakekat manusia pada dasarnya sebagai mahluk yang penuh rasa ingin tahu dan tidak pernah merasa puas dengan pencapaiannya. Prosesnya ketika manusia menanggap segala sesuatu disekitar dengan panca indra; manusia tersebut melewati masa mengkonsep dan penalaran memalui penilaian analitik, empiris, deduktif maupun induktif; Hasil penilaian itu kemudian dipercayai lalu dipahami sebagai kebenaran. Kebenaran atas bertemunnya fakta dan keyakinan tersebut harus melewati ujian keabsahan melalui pengalaman yang kemudian baru bisa disebut sebagai pengetahuan. Berdasarkan sumbernya, pengetahuan dapat diperoleh dari:
1.      Kesaksian seseorang akan sesuatu lalu diterima sebagai pengetahuan.
2.      Pengalaman yang membawa paradigma baru tentang kenyataan.
3.      Penalaran dan perenungan yang tajam atas suatu keadaan atau sesuatu.
4.      Respons panca indra atas situasi dan kondisi disekitarnya.

V.                Kurikulum
Menurut Dr. D. Campbell Wyckoff, dalam bukunya Theory and Design of Christian Education Curriculum:
Kurikulum adalah alat komunikasi yang direncanakan dengan sangat hati-hati, yang digunakan oleh gereja dalam bidang pengajarannya agar iman dan hidup Kristen dapat dikenal, diterima dan hidup.

Disebutkan di atas bahwa (1) Kurikulum direncanakan dengan sangat hati-hati" maksudnya bahwa Penyusun Kurikulum akan menghabiskan waktu dan tenaganya untuk berfikir, merancang dan merencanakan segala sesuatu yang perlu agar kurikulum tersusun dengan baik. (2) Alat komunikasi" mengandung maksud bahwa kurikulum melibatkan dialog antar satu orang dengan yang lainnya. (3) Digunakan oleh gereja" ini menunjuk gereja secara menyeluruh, semua anggotanya, gereja sebagai tubuh Kristus yang hidup. (4) Dalam bidang pengajarannya" meliputi semua kegiatan dan program yang mengutamakan pengajaran dan pengasuhan sebagai bagian penting dalam usaha memperlengkapi setiap orang menjadi pelayan Allah dan murid Yesus Kristus. (5) Agar iman dan hidup kekristenan dapat dikenal, diterima dan hidup" menggambarkan isi dan tujuan pengajaran gereja. Ini bukan sekedar mempelajari beberapa informasi mengenai Tuhan Yesus Kristus, tidak juga sekedar menyatakan apa yang dipercayai seseorang. Namun lebih dari pada itu, hal ini melibatkan praktek dan hidup seseorang sebagai ungkapan pengetahuan dan kepercayaannya.
Kurikulum adalah satu perangkat pendidikan formal yang teratur, tertata dan didokumentasikan dengan tujuan mencapai sasaran yang sudah ditentukan sebelumnya, yaitu menolong, mengarahkan, membekali murid untuk mencapai tujuan pendidikan serta bertumbuh menuju kepada kedewasaan iman.

VI.             Kesimpulan
Pendidikan adalah proses sepanjang hidup. Pendidikan bukanlah selalu dikaitkan dengan pelembagaan namun pelembagaan bisa selalu dimaksudkan sebagai sarana pendidikan. Dalam makalah ini maka ada berapa pon yang dapat disimpulkan tentang pendidikan.
Pertama, pendidikan dipandang dari falsafah kekristenan berarti usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan proses pembelajaran seumur hidup yang ditujukan supaya peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya dalam hal  pengenalan akan Tuhan, character building, intelektual maupun spiritual, dan kemampuan dalam bermasyarakat. Selain itu pada dasarnya mesti dipahami bahwa pendidikan adalah kekuatan dari sebuah masyarakat, karena pendidikan berfungsi membangun masyarakat yang maju dalam berbangsa dan bernegara. Bangsa yang besar adalah bangsa yang memajukan pendidikannya.
Kedua, pendidikan dalam ranah theologis berarti usaha dari tiap individu mengenal ketetapan-ketetapan Allah, karena dari Allah-lah sumber hikmat dan pengetahuan. Tujuan akhir dari pendidikan dan pengajaran dalam theologis adalah menciptakan bangsa yang baru sesuai kehendak Allah. Bangsa yang memiliki karakter Kristus dan budi pekerti kerajaan Allah. Pendidikan didunia bertujuan untuk melatih manusia agar siap memperoleh keselamatan di dalam Kristus Yesus.
Ketiga, Pendidikan secara harafiah berarti pentransferan ilmu dan pengetahuan kepada peserta didik. Maka jika dipahami,  pengetahuan adalah hasil dari suatu pengamatan akan kehidupan, yang berlandaskan kebenaran akan Yesus Kristus yang absolut sebagai Tuhan sebagai pemilik ilmu pengetahuan. Dan perlu disadari secara mendalam bahwa pengetahuan seharusnya dipandang bukan saja  menyangkut segi intelektual tetapi juga segi moral, perubahan karakter, aestetika, spritual serta sosio cultural ketuhanan (Ams 1:7)
Keempat, pendidiakan setidaknya harus mempunyai goal dan tujuan pendidikan yang tercantum dalam kurikulum. Kurikulum  adalah perangkat pendidikan formal, didokumentasikan dan teratur bertujuan untuk mencapai sasaran yang sudah ditentukan oleh instansi yang sesuai dengan kehendak Allah.
Secara global dapat ditarik benang merah, bahwa segala segi dari proses pendidikan yang berjalan maupun terencana harus kembali ke satu kebenaran, yaitu pribadi Allah sebagai yang absolut. Jika demikian semestinya pendidikan ada hanya utntuk kepentingan Allah dan kembali hanya untuk Allah, karena Allah ingin mengembalikan manusia kepada kemuliaannya kembali. Maka lembaga pendidikan maupun setiap personal yang berkecimpung dalam kependidikan haruslah mengandalkan kekuatan Roh Allah dalam mendidik dan mengajar, karena sebagaimana disinggung tujuan pendidikan semestinya hanya berpusat kepada Allah dan dalam rencana Allah saja jadi bukan karena kekuatan manusia sendiri.



Daftar Pustaka.
Alkitab Apps.( Indonesian-English Version), Sword Project @ http//: www.swordbible.go// Apps// downloads// bible study pro. (72Mps) Accessed Oct,28 2001, 12.00 Pm
Boehlke, Robert R. Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010.
Lawrence O. Richards. “Pendidikan Berbasis Alkitabiah” , Bab Memilih dan Menggunakan Kurikulum (Bag.II no.12), halaman 192 – 195.
Muhammad, Hamid. “Garis-garis Besar Perundangan Pendidikan Nasiaonal,” Buku Pedoman Pendidikan Nasional, Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, 2006.
Rooijakkers, Ad. Mengajar Dengan Sukses, Jakarta: Gramedia, 1984
Sidjabat, B.S. M.Th., Ed.D., ,Wawasan Pendidikan Kristen,  Artikel Kurikulum Pendidikan Gereja; 2005, halaman 45 –53.



[1] Makalah filsafat pendidikan, oleh James Pattie, S.Pd sebagai tugas akhir mata kuliah filsafat pendidikan Institut Theologia Aletheia Lawang, Oktober 2010.
[2] http//:www.pendidikanonline.org/filsafat pendidikan/428%
Diakses 30 Oktober 2010, pukul 14.30 Wib
[3] Ibid.,p.02
[4] Boehlke, Robert, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek PAK, PT. Bpk gunung Mulia, Cetakan ke lima, Jakarta 2010. p. 467
[5] http//:www.wacanapendidikan.id/pendidikan2%indonesia/tujuan3%pendidikan..(diakses 21 Oktober pkl. 21.30 wib)
[6] http//:www.blogspot.pendidikan.com/fungsi34%pendidikan/pendidikan093%&/masyarakat..(diakses 21 Oktober pkl. 21.35 wib)
[7] Sejarah Perkembangan, pikiran dan praktik pendidikan agama kristen, page 236

[8] UUSPN No. 2/1989 dicukil pada halaman website http//:www.pendidikan.org/pendidikan65%nasional/!? Senin 28 Oktober pkl 12.00 wib
[9] Kamus Besar Online http//:www.dictionary.com//knowledge//search:83%?!!, diakses 28 Oktober 2001, pkl 12.00 wib
[10] Ams 1:7

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar